•Kota yang Bersebelahan•
Dahulu, saat kita berjalan depan belakang, aku senantiasa memperhatikan selisih tinggi kita...
Sore yang disirami warna jingga saat itu, di suasana panasnya bulan Agustus...
Kita pun saling bertumbuh, dan kemudian merancang cita-cita untuk masa depan...
Belajar, dan meraihnya, sekalipun waktu berbicara bahwa kita tak selalu mendapatkan apa yang menjadi idealisme kita...
Begitupun dirimu, jatuh bangun untuk merealisasikan apa yang menjadi mimpimu.
Walaupun saat kita sudah sama sama mendewasa, kita semakin realistis dengan keadaan kita..
Sesungguhnya aku kehilangan kata2 untuk mendeskripsikan dirimu, orang yang pekerja keras, dan perfeksionis. Tak banyak bicara, namun berani melangkah.
Suatu saat nanti, akan ku lihat dirimu yang telah berubah menjadi bersinar...
Ucapan terimakasih yang ku sampaikan melalui pesan sepertinya tidak akan menyentuhmu.
Aku pun tidak tahu, siapa sosok yang akan membuatmu kembali bertekad melakukan sesuatu. Tetapi, semangat yang kuat itu muncul dari dalam diri sendiri.
Tanpa ku tahu, setelah sekian lama tidak pernah mendengar kabar. Kita melalui jalan yang sama, menuju sebuah kota yang bersebelahan.
Kita melihat jingganya matahari sore yang memiliki kemiripan.
Gunung yang kita lihat di sisi kanan dan kiri jalan. Rute perjalanan yang selalu mengambil hatiku. Aku bersyukur, dan berterimakasih.
Pada akhirnya. Cerita tentang semangat yang dulu menyertai perjalanan ini, telah membawaku pada sebuah kata, "Setiap kebaikan apapun itu, aku mendukungnya. Karena aku mempercayaimu sepenuh hati bahwa dirimu adalah orang yang berhati baik".
Tak perlu berkata apapun lagi. Selamat menyambut dunia...
Dari kota yang bersebelahan,
Aku sudah berhenti bertanya.
Tentang apa yang kamu khawatirkan. Apa yang kamu lakukan hari ini. Dan hal apa yang sebenarnya kamu sukai?
Sekalipun hal itu selalu mengintai.
Tapi sudah cukup, melihatmu tumbuh dengan sebaiknya...
Just Write, Zullue.

Komentar
Posting Komentar