Draft


 Di tengah terik matahari yang mulai menggelincir, sambil bersandar pada jendela bus, aku melihatmu yang sedang bertumbuh itu tersenyum... Sudah berapa tahun sejak pertemuan itu, dimana syair tentang hamparan bunga matahari melekat dalam ingatanku...

Orang ini terlihat baik dan tulus...

Begitu pikirku...

Terimakasih sudah pernah hadir dalam hari-hari... Saat aku mulai berjumpa orang-orang yang lebih banyak dari sebelumnya... Terasa menakutkan saat harus menghadapi orang-orang baru...

Mencium petrichor sembari tersenyum, dirimu yang ramah itu senantiasa menghormati orang lain... Terimakasih sudah memberikan banyak inspirasi...

Seperti biasanya, aku tidak memiliki kata-kata yang indah...

Tetapi, hujan gerimis yang membasahi seragammu di sore hari itu, dirimu yang menunggu bus di pinggiran jalanan kota yang sepi... Andaikata kita berjumpa sekali lagi, apakah dirimu masih mengenaliku?

Mohon maaf aku tidak sebaik orang lain dan aku kini mengerti seperti apa diriku... Namun aku tidak berbohong dengan apa yang ku katakan, bahwa dirimu adalah orang yang bijaksana... Aku tidak pernah berada di sisimu, semoga hal itu.. Benar-benar ada padamu, itu doaku...

Bila kita berjumpa sekali lagi, yang ingin ku katakan hanyalah terimakasih... Karena kamu telah berkenan tersenyum pada anak yang polos itu... Kamu yang dewasa tidak bermuka masam padanya... Aku tidak akan pernah melupakannya... Semoga dirimu sehat selalu...


Komentar